Ini tulisan pertama saya dan saya ingin berbagi tentang pengalaman saya dalam buka warung kelontongan,
Bagi Kaum wanita terutama bagi para ibu2 yg namanya pasar terutama pasar Tradisional tentunya bukan hal yg asing lagi untuk belanja berbagai kebutuhan rumah tangga , bila kebutuhan itu hanya sedikit2 bisanya cukup ke “ warung sebelah “ yaitu warung2 kecil yg biasanya ada disekitar pemukiman warga .
Tapi sekarang ini ada fenomena “ serbuan “ Mini Market diberbagai daerah bahkan sampai ke pelosok2 wilayah , serbuan tsb tidak saja berpotensi mematikan warung2 kecil semacam “ warung sebelah “ bahkan juga berpotensi mematikan usaha berdagang di pasar2 tradisional.
Bagi sebagian orang hal ini mungkin dirasakan sebagai hal yg biasa2 saja dan bahkan dirasakan sebagai tambahan fasilitas bagi para pembeli , terutama fasilitas AC dan susana yg lebih familiar dan Tidak Becek ( yg masih menganggap dirinya adalah Raja ), maka mereka akan lebih senang berbelanja di Mini Market atau bahkan di Super market yg sekarang ini sudah makin menyebar di berbagai daerah , krn biasanya harga2 nya pun juga ga berbeda jauh dan sebagian lagi bahkan bisa lebih murah krn dg modal mereka yg besar mereka bisa sedikit menekan para produsen dan pemasok utk memberikan potongan harga yg sangat bagus ( pedagang kecil jelas tidak mungkin bisa melakukan hal ini ).“ Serbuan “ Mini Market yang notabennya adalah suatu usaha yg bemodal tidak Mini bahkan cenderung Maxi alias bermodal besar ini memang makin dirasakan dampak negatifnya oleh para pedagang kecil baik itu yg berupa warung2 kecil dan juga bagi para pedagang di pasar trdisional , sudah banyak para pedagang dan pewarung yg bangkrut dan “gulung tikar“ gara2 di dekat tmpnya bedagang ada dibuka Mini Market baru ,
nah sekarang bagi pelaku toko dan warung-warung kecil di kampung sudah saatnya sensitif melihat penomena ini pelajari cara mereka mengelola usahanya, liahat dari segi kebersihan, kerapihan penataan barang, pelayanan kepada pelanggan, sudah saatnya kita mencontoh mereka, biar pun warung kecil tapi kalu tp kalu kita cerdik mengelolanya akan tetap rame, dari penataan barang sudah saatnya kita pun mencontoh mereka, tata barang supaya terlihat semua sama pelanggan dan pelanggan bisa ngambil sendiri dengan begitu yang tadinya ga niat beli yang lain jadi beli yang lainya,
Dengan adanya perbandingan2 dan perbedaan2 diatas bila tidak segera diantisipasi secara tepat oleh pihak yg berwenang maka jangan anda heran kalau dalam waktu ga lama lagi ( diperkirakan paling lama 5 Thn ) maka fenomena “ warung sebelah “ ataupun Pasar-pasar Tradisional akan terpangkas sampai hanya tingal separuhnya , Kenapa ? karena warung2 kecil dan para pedagang di Pasar-pasar Tradisional pada umumnya adalah para pedagang dg modal kecil, yg hanya bisa belanja hari ini utk dijual besok nya dan dikelola dg cara seadanya saja bandingkan dg para pemodal besar yg membuka Mini Market maupun Super Market yg dikelola dg Management Modern dan didukung dg modal yg sangat besar , hal ini bagaikan Pelanduk melawan Gajah.
ni contoh toko saya setelah di permak
Tidak perlu pake rak percis kaya di supermarket karna harganya yang selangit, mending bikin sendiri tapi gambarannya sama kaya rak di supermarket, perbandingan harga rak supermarket dengan rak bikin sendiri jauh,, kalu kita beli satu meter bisa 1,5jt kalu dengan uang segitu bikin sendiri bisa dapet 4 meter dg bahan besi juga,, yang intinya supaya display barang kelihatan semua sama pelanggan.
cuma kurangnya kalu rak bikin sendiri ga bisa di geser naik turun tahapanya, makanya harus bener-bener di ukur sesuai dengan kebutuhan.
dan hasilnya cukup bertambah rame,,
semoga pengalaman saya ini bermanfaat,, tentunya basih sangat banyak kekurangannya silahkan lengkapi dan kembangkan lagi oleh masing-masing,,
" mohon kritik dan saranya biar saya bisa lebih maju.
